BERKAT PRIHATIN DAN KERJA KERAS

Universitas Pendidikan Indonesia - Kampus Serang | BERKAT PRIHATIN DAN KERJA KERAS

Elmi Hanjar Bait

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
UPI Kampus Serang Angkatan 2013

Sebelumnya, saya sampaikan selamat kepada seluruh rekan saya yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi di UPI Kampus Serang. Dipertengahan tahun ini, sebanyak 164 mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPI Kampus Serang telah dinyatakan lulus dalam Sidang Yudisium, akhir bulan lalu (20/6/2017) dan akan diwisuda bulan Agustus mendatang pada Wisuda UPI Gelombang II.

Selamat saya sampaikan pula kepada para orang tua, keluarga, yang telah berhasil mengatarkan putra-putrinya (rekan-rekan saya) mencapai cita-cita mereka. Alhamdulillah, suatu kebanggaan dan keberuntungan tentunya bagi kita semua, kita dapat mengenyam pendidikan tinggi. Sementara itu, tidak sedikit dari kita yang tidak mendapat kesempatan yang sama dengan kita. Terhitung ribuan bahkan jutaan orang tidak mendapat kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi baik karena ketiadaan biaya ataupun sebab yang lainnya. Oleh karenanya, mari kita panjatkan rasa syukur atas limpahan nikmat kepada kita semua.

Menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merupakan suatu kebanggaan bagi rekan-rekan semua. Pasalnya, UPI adalah universitas yang masuk sebagai jajaran universitas top di Negara ini. Tidak heran, saat kuliah kita sering dikuliahi agar senantiasa bersyukur karena berada di universitas top sebesar UPI, ataupun kita sering mendapat beberapa pujian dari kerabat, tetangga, warga kampung tentang keberadaan kita di UPI untuk menuntut ilmu. Nama besar UPI memang sudah tidak diragukan lagi sebagai universitas pelopor pendidikan di Indonesia.

Begitu pula yang dirasakan oleh saya, meskipun saya sendiri belum berhasil lulus pada periode ini, namun atmosfer kebanggaan itu sudah saya rasakan bahkan semenjak saya menjadi mahasiswa baru di UPI. Ironi, bangga bercampur miris juga saya rasakan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya orang lain bahkan kerabat saya sendiri, tidak mendapat kesempatan yang sama seperti saya yakni dapat menempuh pendidikan tinggi.

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan di Internet yang berjudul “Memetakan Mimpi (Pendidikan) Tinggi” (Diposting pada 11 Februari 2017), ditulis oleh Ramda Yanuarzha seorang periset yang tergabung dalam komunitas data scientist. Dalam tulisannya, Ramda menceritakan bagaimana ia mengerjakan proyek iseng akhir pekannya yakni memetakan data pendidikan tinggi. Ia memetakan data-data yang di dapatnya melalui data Forlap Dikti yang kemudian ia simpulkan dengan beberapa angka-angka statistik.

Dari tulisannya tersebut, saya mendapat angka <5 dari ~250 juta yang artinya kurang dari 5 juta saat ini sedang menjadi mahasiswa dari ~250 juta penduduk, atau baru 8% saja dari kita yang pernah mencicipi bangku kuliah dari jumlah total penduduk di negara ini. Jika sudah melihat data ini, kita tidak perlu repot-repot lagi bicara soal universitas top atau keberadaan kita di universitas top, karena dengan sudah duduk di bangku pendidikan tinggi saja ternyata kita seharusnya sudah sangat bersyukur.

Maka sungguh, inilah nikmat Allah SWT. yang tidak bisa kita dustakan. “Fa-biayyi alaa’I Rabbi kuma tukadzdzi ban” (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) (Ar-Rahman). Oleh karena itu, marilah kita panjatkan rasa syukur atas limpahan nikmat Allah SWT. Yang telah memberikan kesempatan kita dapat menempuh pendidikan tinggi.

Namun disamping semua itu, capaian atas keberhasilan kita dalam menempuh pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang didapat dengan mudah begitu saja. Bukan seperti peristiwa kejatuhan buah, atau ibarat menang lotre. Semua membutuhkan proses panjang, perlu prihatin dan juga kerja keras. Hal ini sebagaimana yang di gambarkan oleh Afelia Novitasari mahasiswa asal Lampung (mahasiswa bidikmisi, peraih IPK tertinggi di UPI Kampus Serang tahun ini) dalam tulisannya yang berjudul “Di UPI Kuraih Jejak Mimpi”.

Dalam tulisannya, Afel (begitu panggilan akrabnya) menceritakan bagaimana ia seorang anak dari keluarga kurang mampu untuk berkuliah, akhirnya mendapat kesempatan untuk berkuliah dan kemudian menetapkan niat masa depannya di UPI. Tidak sedikit peristiwa heroik keluarga ditulisnya, tidak sedikit pula peristiwa-peristiwa sulit perlu Afel lalui untuk mendapat kesempatan ini.

Misalnya saja, Afel menceritakan bagaimana ia dan bapaknya saat pergi registrasi ulang ke Bandung, bapaknya kehabisan ongkos untuk mereka pulang. Saat itu, bapak Afel (yang bekerja sebagai sopir) mencoba menelpon teman sopir yang lain dan akhirnya  mendapatkan tumpangan mobil temannya yang kebetulan sedang mengirim muatan ke Jakarta. Afelpun harus pulang dengan keadaan yang tidak nyaman dengan menumpangi mobil Puso, mobil tumpangan dari teman bapaknya.

Pada kesempatan yang lalu, saya juga mencoba berbincang dengan Afel untuk mengucapkan selamat atas raihan prestasi yang ia dapatkan. Menurut saya, dari rangkaian peristiwa yang dilaluinya, tidak sedikit Afel perlu prihatin terhadap keadaan yang dialami dalam hidupnya. Afelpun telah menunjukkan kerja kerasnya sampai sejauh ini, sehingga ia dapat berhasil. Berkat prihatin dan kerja keras, Afel dapat menyelesaikan pendidikannya di UPI hingga bahkan menjadi lulusan terbaik.

Sepengalaman dengan Afel, saya juga cukup kenyang mengalami pengalaman-pengalaman sulit dalam menempuh pendidikan. Misalnya saja, saya harus ikut kerja dengan bapak saya sebagai kuli bangunan selama satu bulan agar mendapatkan uang untuk ongkos dan keperluan lain saat melakukan registrasi kuliah. Peristiwa lainnya seperti pinjam laptop sana-sini, pergi kewarnet sana-sini saat mengerjakan tugas kuliah juga saya alami karena saya tidak memiliki laptop. Menghemat-hemat uang living cost bidikmisi agar cukup sebulan juga saya lakukan meski akhirnya tidak cukup, bahkan saya seringkali makan nasi putih saja saat di Asrama. Meski demikian, saya mencoba bertahan dengan semua keadaan yang saya alami. Saya cukup prihatin dengan keadaan saya dan keluarga, maka ketika saya mendapat kesempatan kuliah sebagai mahasiswa bidikmisi, saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini sebagai jalan keluar dari keterperukkan keluarga saya. Dari keprihatinan ini justru bisa menjadi motivasi kita untuk berubah menjadi lebih baik, namun prihatin saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan kerja keras. Berkat prihatin dan kerja keras, Afelia saja bisa sukses meraih prestasi dan saya juga yakin atas keprihatinan dan kerja keras saya, suatu hari kelak saya akan mendapatkan kesuksesan.

Prof. Sutarto Hadi, Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pernah menulis “The Power of Belief”. Beliau menulis sebuah pernyataan Profesor William James (Harvard) yang mengatakan bahwa penemuan terbesar dari generasi saat ini adalah manusia dapat mengubah hidupnya dengan mengubah pola pikirnya. Artinya, manusia dapat menjadi apa yang mereka inginkan sepanjang dia memiliki keyakinan bahwa dia bisa menjadi seperti yang diinginkannya. Prof. Sutarto Hadi menyimpulkan bahwa kesuksesan seseorang adalah hasil dari kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia bisa sukses. Profesor menyebut itulah yang disebut the power of belief.

Jika Prof. Sutarto Hadi mengatakan the power of belief, maka jika saya boleh menambahkan belief ini juga perlu diirngi dengan prihatin dan kerja keras. Dengan demikian, dengan kekuataan kepercayaan dan keyakinan yang seseorang miliki serta berkat prihatin dan kerja keras yang ia kerjakan, maka sukses akan ia dapatkan. Aamiin. (*)