Sinergi Akademik dan Praktik, PGPAUD UPI Serang Belajar Bersama Yayasan Credo
Serang, UPI – Program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) UPI Serang memperkuat sinergi antara pembelajaran akademik dan praktik melalui kegiatan workshop bertema "Disiplin Positif" bersama Yayasan CREDO. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman mengenai pendekatan dalam mendampingi anak yang ramah, tegas, sekaligus menghargai kebutuhan dan perkembangan anak.
Workshop Disiplin Positif menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami pendekatan disiplin yang berorientasi pada kebutuhan, perkembangan, serta pembentukan karakter anak usia dini. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai konsep disiplin positif, tetapi juga mengajak peserta untuk menghubungkan materi dengan berbagai situasi nyata yang dapat ditemui dalam lingkungan pendidikan anak usia dini. Kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Yayasan CREDO, dosen, dan mahasiswa. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif, sehingga peserta tidak hanya memahami disiplin positif secara teoritis, tetapi juga mampu mempertimbangkan penerapannya ketika menghadapi berbagai perilaku anak.
Pada awal kegiatan workshop, peserta diajak memahami perbedaan antara hukuman, hadiah, dan disiplin positif. Peserta juga diberikan kesempatan untuk merefleksikan pengalaman ketika menghadapi perilaku anak yang dianggap menyimpang. Melalui proses tersebut, peserta diarahkan untuk melihat perilaku anak secara lebih menyeluruh dan tidak terburu-buru memberikan respons berupa hukuman. Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai lima kriteria utama disiplin positif, yaitu bersikap baik dan tegas secara bersamaan, membantu anak merasa memiliki dan arti penting, memberikan dampak efektif dalam jangka panjang, mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan, serta membantu anak memahami kemampuan dan kekuatannya secara konstruktif.
Salah satu materi utama yang menjadi perhatian peserta adalah pembahasan mengenai empat tujuan keliru dari perilaku menyimpang, yaitu mencari perhatian, keinginan berkuasa yang salah kaprah, melakukan balas dendam, dan menunjukkan rasa tidak mampu. Peserta diajak memahami bahwa perilaku anak yang tampak di permukaan dapat memiliki kebutuhan atau tujuan tertentu yang melatarbelakanginya.
Pada sesi aplikasi, peserta diberikan berbagai situasi yang dapat terjadi dalam lingkungan pendidikan anak usia dini. Salah satunya adalah ketika seorang anak bermain pada saat kegiatan belajar berlangsung sehingga mengabaikan arahan guru. Peserta kemudian diminta menentukan respons yang sesuai berdasarkan prinsip disiplin positif, bukan sekadar memberikan hukuman kepada anak.
Workshop juga memperkenalkan sejumlah perangkat disiplin positif yang dapat diterapkan dalam mendampingi anak. Perangkat tersebut meliputi tentukan apa yang akan dilakukan, bertindak daripada hanya berbicara, menggunakan kata-kata secara tepat, melakukan tindakan secara konsisten, menawarkan pilihan dengan bijak, fokus pada solusi, memanfaatkan konsekuensi alami dan logis, menyetrap yang positif, membentuk rutinitas, mengadakan pertemuan kelas, meluangkan waktu khusus bersama anak, serta membangun komunikasi yang baik.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan brainstorming untuk menyusun solusi berdasarkan kasus yang diberikan. Peserta mengidentifikasi perilaku anak, kemungkinan tujuan di balik perilaku tersebut, perangkat disiplin positif yang dapat digunakan, serta cara membantu anak agar tetap merasa diterima dan dihargai. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, bertukar pandangan, dan mempertimbangkan berbagai alternatif penyelesaian masalah.
Salah satu pemateri menyampaikan bahwa disiplin positif bukan sekadar upaya untuk membuat anak mematuhi aturan, melainkan proses mendampingi anak agar mampu memahami perilaku dan belajar bertanggung jawab. "Disiplin positif bukan tentang bagaimana membuat anak takut untuk melakukan kesalahan, tetapi bagaimana membantu anak memahami perilakunya, belajar dari pengalaman, dan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab."
Bagi mahasiswa, workshop ini memberikan pengalaman yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Melalui diskusi, analisis kasus, dan brainstorming, mahasiswa belajar bahwa perilaku anak perlu dipahami secara menyeluruh sebelum menentukan respons. Kegiatan ini juga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, serta mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Salah satu mahasiswa menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai cara merespons perilaku anak secara lebih positif namun memberikan rasa tanggung jawab kepada anak. "Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa ketika anak melakukan kesalahan, kita tidak harus langsung memarahinya. Kita perlu memahami alasan di balik perilakunya dan mencari solusi yang dapat membantu anak belajar memperbaiki diri."
Kolaborasi antara Yayasan CREDO, dosen, dan mahasiswa turut memberikan kontribusi dalam memperkuat pemahaman mengenai penerapan disiplin positif. Pertukaran pengalaman dan sudut pandang dari berbagai pihak membuat peserta memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai penerapan disiplin positif dalam situasi nyata di lingkungan pendidikan anak usia dini. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya pendidikan yang mengutamakan penghargaan, komunikasi, tanggung jawab, dan penyelesaian masalah secara konstruktif. Pendekatan ini juga diharapkan dapat membantu orang dewasa menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Melalui Workshop Disiplin Positif, peserta memperoleh pemahaman bahwa mendampingi anak membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kemampuan melihat perilaku dari sudut pandang anak. Disiplin tidak semestinya hanya berorientasi pada kepatuhan sesaat, tetapi juga pada pembentukan keterampilan, kemandirian, tanggung jawab, dan karakter anak dalam jangka panjang.
Dengan penerapan disiplin positif, orang dewasa diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak sehingga anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk belajar dari setiap pengalaman. Dengan demikian, disiplin positif dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan anak secara menyeluruh serta membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Workshop Disiplin Positif ini merupakan wujud nyata dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi calon pendidik anak usia dini yang berorientasi pada pendekatan pembelajaran yang humanis, aplikatif, dan berpusat pada kebutuhan anak. Penguatan karakter, kemandirian, dan tanggung jawab anak yang menjadi inti dari disiplin positif juga mencerminkan kontribusi terhadap SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pembentukan kesehatan mental dan emosional anak sejak usia dini. Kolaborasi antara PGPAUD UPI Serang dan Yayasan CREDO dalam kegiatan ini juga merupakan cerminan dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung antara perguruan tinggi dan lembaga masyarakat.
Kontributor: Ashia Floradestri Putri, Imtinan Salsabila, Maudy Noor Fitry, Wahida Izzatul Muna (Mahasiswa PGPAUD UPI Serang)



















