Dari PAUD, Mencintai Budaya: TK Pertiwi Kenalkan Keberagaman Nusantara melalui Pembelajaran "Budayaku"

Serang, UPI – Pengenalan budaya kepada anak usia dini dapat dilakukan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gagasan tersebut diwujudkan melalui penerapan Modul Ajar PAUD Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Edisi 2026 dengan tema "Budayaku" dan subtema "Mengenal Budaya di Lingkunganku" di TK Pertiwi, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Modul pembelajaran tersebut dirancang bagi anak kelompok B usia 5–6 tahun melalui rangkaian kegiatan selama satu minggu atau lima hari. Pembelajaran menggunakan model berbasis bermain dan proyek sederhana dengan pendekatan bermain, eksplorasi, demonstrasi, bercakap-cakap, praktik langsung, dan seni.

Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya dikenalkan pada berbagai bentuk budaya, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengamati, mencoba, bermain, berkarya, bercerita, serta belajar menghargai keberagaman.


Budaya Dikenalkan melalui Pengalaman Bermain

Materi pembelajaran mencakup pakaian adat, rumah adat, makanan tradisional, lagu daerah, tarian daerah, permainan tradisional, dan kerajinan daerah. Anak diajak menghubungkan pengalaman budaya dengan kehidupan sehari-hari melalui pertanyaan pemantik dan kegiatan eksploratif.

Pengenalan budaya tidak berhenti pada aktivitas menghafalkan nama-nama budaya. Anak memperoleh kesempatan untuk mengamati gambar dan benda budaya, mengelompokkan gambar, bermain peran, bernyanyi, menari, memainkan alat musik sederhana, hingga menghasilkan karya seni.

Lima Hari Mengenal dan Mencintai Budaya

Rangkaian pembelajaran dilaksanakan secara bertahap selama lima hari. Hari pertama mengangkat kegiatan "Aku dan Budayaku". Anak mengamati gambar budaya, bercakap-cakap, mengelompokkan gambar, kemudian menggambar budaya yang disukai.

Pada hari kedua, anak mengenal pakaian adat melalui kegiatan mengamati warna dan bentuk, bermain peran, serta menghias gambar pakaian adat. Hari ketiga berfokus pada makanan tradisional melalui kegiatan mengamati gambar, mengelompokkan gambar makanan, dan bermain pasar tradisional.

Hari keempat menjadi kesempatan bagi anak mengenal lagu dan tarian daerah. Anak mendengarkan lagu daerah, bernyanyi, mengikuti gerakan sederhana, bermain alat musik, dan tampil secara berkelompok.

Rangkaian pembelajaran mencapai puncaknya pada hari kelima melalui kegiatan "Aku Cinta Budayaku". Anak memilih bahan dan pola budaya, membuat kolase menggunakan daun kering, biji-bijian, kertas warna, dan bahan alam, kemudian menceritakan hasil karyanya.

"Aku Cinta Budayaku" sebagai Proyek Anak

Proyek "Aku Cinta Budayaku" dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu mengenal, memilih, berkarya, berbagi, dan pameran. Anak mengamati gambar atau benda budaya, memilih budaya yang disukai, membuat karya seni, menceritakan karya kepada teman, dan memajangnya dalam kegiatan Pesta Budaya Anak.

Puncak Tema: Pesta Budaya Anak

Pesta Budaya Anak menjadi ruang apresiasi melalui pameran karya, lagu daerah, gerak dan tari sederhana, alat musik sederhana, pengenalan makanan tradisional, permainan tradisional yang aman, serta kegiatan bercerita mengenai budaya yang disukai.


Keluarga dan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Pengenalan budaya diperluas melalui keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar. Modul memberikan ruang kepada orang tua untuk menceritakan budaya keluarga, menunjukkan pakaian atau benda budaya yang aman, mengenalkan makanan khas daerah, mendengarkan lagu daerah bersama, bermain permainan tradisional, serta mengajak anak melihat kegiatan budaya di lingkungan sekitar.

Menumbuhkan Rasa Bangga terhadap Budaya sejak Dini

Pembelajaran "Mengenal Budaya di Lingkunganku" menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini dapat menjadi ruang strategis untuk mengenalkan budaya melalui pengalaman yang sederhana, konkret, dan menyenangkan. Anak diberikan kesempatan untuk melihat, mengamati, mencoba, bermain, berkarya, bercerita, dan menghargai budaya. Pengenalan budaya tidak berhenti pada kemampuan anak menyebutkan berbagai bentuk budaya daerah, tetapi diarahkan agar anak memahami bahwa budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dikenali, dihargai, dan dijaga bersama.

Ketika budaya hadir melalui permainan, seni, cerita, pengalaman keluarga, dan lingkungan sekitar, anak memperoleh kesempatan untuk membangun pengalaman positif terhadap budayanya sejak usia dini. Pembelajaran budaya pun menjadi lebih dekat dengan dunia anak: bermain, mencoba, dan berkarya.

Kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan modul untuk menumbuhkan rasa senang dan bangga terhadap budaya daerah, menghargai karya teman dan keberagaman budaya, serta menunjukkan perilaku sederhana dalam menjaga dan melestarikan budaya.

Pembelajaran "Budayaku" di TK Pertiwi ini sejalan dengan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penerapan Modul Ajar PAUD UPI yang mengintegrasikan pengenalan budaya dalam pembelajaran anak usia dini merupakan wujud nyata dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui inovasi pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan karakter anak secara menyeluruh. Pengenalan dan pelestarian keberagaman budaya Nusantara sejak usia dini juga mencerminkan kontribusi nyata terhadap SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya menjaga dan mewariskan warisan budaya lokal kepada generasi penerus bangsa. Selain itu, keterlibatan keluarga dan lingkungan sebagai sumber belajar dalam program ini merupakan cerminan dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.


Kontributor: Desi Eka Saputri (NIM: 2433136) — Mahasiswa PGPAUD UPI Kampus Serang, Kelas RPL
Dosen Pengampu: Dr. Yulianti Fitriani, S.Pd., M.Sn.


Link Web Terkait