Belajar Budaya Daerah Sejak Dini, PAUD Kenalkan Rumah Lamin hingga Musik Tradisional Kalimantan Timur

Serang, UPI – Pengenalan budaya daerah kepada anak usia dini dapat dilakukan melalui pengalaman bermain yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan anak. Pendekatan tersebut menjadi bagian utama dalam Modul Ajar PAUD bertema "Budaya Daerahku" untuk anak usia 3–4 tahun dengan konteks lokal Kalimantan Timur/Kutai Timur.

Dalam modul tersebut, pembelajaran budaya tidak diarahkan pada kegiatan menghafal informasi secara formal. Anak justru diajak mengenal budaya melalui kegiatan mengamati, mencoba, mengeksplorasi, berkarya, bermain peran, bergerak, dan bermain bersama teman.

Mengenal Rumah Lamin melalui Bermain dan Eksplorasi

Pada minggu pertama, anak diperkenalkan dengan Rumah Lamin sebagai salah satu rumah adat Kalimantan Timur. Anak diajak mengamati bentuk dan warna Rumah Lamin, mengenal bagian sederhana seperti atap, tiang, tangga, dan lantai, kemudian mengembangkan pengalaman tersebut melalui kegiatan menggambar, menempel, dan menyusun balok.

Kegiatan konstruksi menjadi salah satu pengalaman menarik. Anak dapat menggunakan balok panjang sebagai lantai, balok tegak sebagai tiang, dan balok lainnya sebagai bagian atap. Guru tidak menuntut anak menghasilkan bentuk yang sama persis, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk bereksplorasi dan berkreasi.

Pembelajaran juga melibatkan keluarga. Orang tua dapat mengajak anak mengamati rumah tempat tinggal mereka dan membicarakan persamaan serta perbedaannya dengan Rumah Lamin.


Pakaian Adat Menjadi Media Bermain Peran

Pada minggu kedua, tema berlanjut dengan pengenalan pakaian adat Kalimantan Timur. Anak diajak mengamati warna dan motif, mengenal bagian sederhana seperti baju, ikat kepala, dan selendang, serta mencoba menggunakan atribut pakaian adat dengan pendampingan guru.

Kegiatan kemudian dikembangkan melalui permainan peran "Pesta Budaya". Anak dapat memilih peran sebagai anak yang mengenakan pakaian adat, tamu, penari, pembawa acara sederhana, maupun anggota keluarga. Melalui kegiatan tersebut, anak tidak hanya mengenal atribut budaya, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan mengekspresikan diri.

Pada akhir minggu, kegiatan dikemas dalam "Panggung Budaya Mini: Aku Bangga Pakaian Adat Daerahku". Kegiatan tersebut dirancang bukan sebagai perlombaan, tetapi sebagai pengalaman untuk mengenal identitas budaya, membangun kepercayaan diri, mengembangkan komunikasi, dan menghargai keberagaman.


Anak Mengekspresikan Budaya melalui Tarian

Memasuki minggu ketiga, anak dikenalkan pada tarian daerah. Fokus pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik usia 3–4 tahun. Anak tidak dituntut menguasai gerakan tari secara tepat, tetapi diberi kesempatan mengeksplorasi gerak, irama, keseimbangan, koordinasi, dan ekspresi diri.

Anak diajak menirukan gerakan sederhana seperti mengangkat tangan, menggerakkan tangan ke samping dan depan, melangkah ke kanan dan kiri, serta bertepuk tangan. Mereka juga dikenalkan pada konsep cepat dan lambat melalui musik.

Kegiatan dilanjutkan dengan eksplorasi menggunakan selendang atau kain ringan. Anak dapat bergerak secara bebas mengikuti musik dengan tetap mendapatkan arahan dan pendampingan guru.

Puncak kegiatan minggu ketiga dikemas melalui "Aku Menari, Aku Bangga Budayaku", yaitu Panggung Tari Mini secara berkelompok. Anak menggunakan atribut sederhana, melakukan gerakan dasar, mengikuti irama, dan menikmati pengalaman menari bersama.


Mengenal Alat Musik Tradisional melalui Eksplorasi Bunyi

Pada minggu keempat, pembelajaran budaya berlanjut melalui tema alat musik tradisional. Anak diperkenalkan dengan beberapa alat musik yang dekat dengan budaya Kalimantan Timur, antara lain Sampe/Sape, gong, kelentangan, dan gendang.

Anak tidak diarahkan untuk menguasai teknik memainkan alat musik tradisional. Fokusnya adalah mendengar, mengamati, mengeksplorasi bunyi, membedakan karakter bunyi, mengikuti irama sederhana, serta belajar menunggu dan bergantian dengan teman.

Melalui kegiatan tersebut, anak dapat belajar membedakan bunyi keras dan pelan, mencoba menghasilkan bunyi menggunakan alat musik sederhana, mengikuti pola bunyi, serta bermain musik secara berkelompok. Pengalaman tersebut sekaligus mengembangkan koordinasi tangan dan mata, kemampuan mengikuti aturan, serta interaksi sosial.


Budaya Lokal sebagai Pengalaman Belajar yang Bermakna

Rangkaian pembelajaran dalam modul menunjukkan bahwa budaya lokal ditempatkan sebagai konteks belajar yang dekat dengan pengalaman anak. Rumah Lamin, pakaian adat, tarian, dan alat musik tradisional tidak hanya diperkenalkan sebagai pengetahuan, tetapi dihadirkan melalui aktivitas bermain dan pengalaman langsung.

Pendekatan tersebut memungkinkan anak mengembangkan berbagai kemampuan secara terpadu, mulai dari bahasa, motorik, kognitif, seni, sosial-emosional hingga jati diri. Pada saat yang sama, anak memperoleh kesempatan untuk mulai mengenal, menyukai, dan menghargai budaya daerahnya.

Dengan demikian, pembelajaran budaya sejak usia dini dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membantu anak membangun hubungan dengan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya. Modul tersebut menempatkan anak sebagai pelaku aktif pembelajaran melalui kegiatan melihat, mendengar, mencoba, bergerak, berkarya, bermain, dan bercerita.

Pembelajaran budaya pun tidak berhenti di ruang kelas. Keterlibatan orang tua diberikan melalui aktivitas sederhana di rumah, sehingga pengalaman anak mengenal budaya dapat berlanjut bersama keluarga.

Pembelajaran budaya daerah melalui Modul Ajar PAUD UPI ini sejalan dengan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pengenalan budaya lokal Kalimantan Timur kepada anak usia dini melalui pendekatan bermain yang menyenangkan merupakan wujud nyata dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui inovasi pembelajaran yang holistik, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan potensi anak secara menyeluruh. Upaya melestarikan dan mewariskan kekayaan budaya daerah seperti Rumah Lamin, pakaian adat, tarian, dan alat musik tradisional kepada generasi penerus juga mencerminkan kontribusi nyata terhadap SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya yang inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan keluarga sebagai mitra belajar dalam modul ini merupakan cerminan dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif antara sekolah dan keluarga.

Kontributor: Niken Retno Aji Pamungkas (NIM: 2433085) — Mahasiswa PGPAUD UPI Kampus Serang, Kelas RPL
Dosen Pengampu: Dr. Yulianti Fitriani, S.Pd., M.Sn.


Link Web Terkait